Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Sunday, 16 July 2017
On July 16, 2017 by zainuddin in Sejarah No comments
Asal usul raja-raja bugis
Menurut
hemat penulis, bahwa pulau Sulawesi pernah di perintah oleh seorang raja yang
bernama la Patiganna ( Nama lain dari Aji Sangkuru Wira) ayah Datu Luwu’
pertama yang bernama batara guru (Nama lain La togeklangi), sekitar tahun 850
M. permainsuri maharaja La Patigana bernama Mutia unruk Datu Palingek ri
senrijawa. Dalam buku Galigo, di ceritakan bahwa maharaja tersebut bertahta di
Boting Langik. Cerita ini tidak dapat di artikan secara Harfiah,m tetapi harus
di mengeri secara simbolik, karena mengandung mitos politik. Suatu mitos
politik adalah mengandung pembenaran terhadap kekuasaan golongan elite yaitu
raja dan kepala Negara yang dikenal di seluruh dunia, baik pada masa silam
maupun pada masa kini. Mitos politik yang
di sesuaikan dengan tingkat peradaban manusia dan penganutnya. Munngkin
yang dimaksud adalah kerajaan yang di anggap Primus Inter pares diantara dua
kerajaan lain, seperti Akkawa (Di permukaan Bumi atau dunia tengah), dan urik
liung atau Toddantoja (Negeri Bawah). Pandangan seperti ini ada kaitangnya
dengan kosmogoni orang-orang Sulawesi selatan. Paham seperti ini di kenal juga
di yunani, Tiongkok, Dan Jepan, proyeksi cara berfikir seperti itu Nampak pada
beberapa kerajaan Bugis, Misalnya Kerajaan Wajo’ yang lahir bada Abad XV,
terdiri atas tiga klasifikasi yakni
Limpo Battempola sebagai anak sulung. Ketiganya terikat pada satu federasi yang
kemudian menjelma menjadi sebuah Negara kesatuan dengan hak otonomi, Di namakan
Wajo’. Buku Galigo yang mengandung Pandangan Kosmogoni seperti tersebut di atas
adalah buku sastra yang di tulis dengan huruf Lontarak, biasa pula di
sebutSurek Sulapa Eppak (karena bentuknya bersegi empat) adalah karya sastra
terbesar dunia seperti yang di perkirakan oleh Prof. Dr. R.A. Kern (1939:4),
tebalnya lebih 8000 halaman dan paling kurang 7000 halaman. Menurut kern yang
pernah membaca seluruh naska Galigo yang ada di eropa barat dan yang ada pada
yayasan Matthes di Makassar bahwa buku I La Galigo Bukanlah Epos melainkan
voorhistorisch atau pra sejarah Sulawesi
selatan (Kern, Op. Cit:15).
Sunday, 25 June 2017
Dalam lontarak
pammana, kepunyaan andi makkaraka, Arung Battempola, terdapat cerita tentang
kedatuan cina. Disebutkan dalam kedatuan cina . Disebutkan bahwa wilayah
kedatuan cina adalah termasuk daerah Bone sekaran dan sebagian besar Wajo serta
soppeng kerajaan ini terbagi atas Cina rilauk dan Cina Riaja. Cina riaja
berpusat di daerah pammana sekarang, pusat pemerintahan raja pertama yang
bernama La Sattungpugik Datunna Cina. Beliau kawin dengan We tenriabang puteri
raja tompoktikka la unrempessi turukbella-e. We tenriabang bersaudara dengan We
datu sengngeng isteri batara lattuk (I La Tiuleng) da we addiluwuk, ratu
tompoktika II.
Raja L Sattumpugik
Datunna Cina yang bermula menamakan
rakyatnya orang-orang ugik (Bugis),
sesuyai dengan akhir namanya La Sttum-Pugik, sedang negerinya diberikan nama
cina atau tana ugik(negeri bugis). Salah seorang putrinya bernama We Cudaik
daeng Risompa (punna Bola-e ri la Tanate) kawin dengan sepupu sekalinya bernama
Sawerigading ( La Maddukelleng To Appanyompa,opunna Warek, putra sulung batara
Lattuk, Raja Luwu II). Pasangan inilah yang melahirkan I La Galigo To
Padammani, opunna cina yang kemudian menjadi datu cina atau Datu Tana Ugik yang
ke III. Perkawinan pertama I La Goligo dengan We Monnok Tenrigangka ( Datunna
Tempe). Lahirlah Puteranya La tenritatta yang kemudian menjadi pajung Luwu’
yang ke III. Baginda ini pulalah yang menutup kisa Raja-Raja Luwu’ yang
tersebut dalam buku Galigo atau masa yang termasuk Pra-Sejarah.
Kesuliatan pertama dalam
mengkaji masa Galigo adalah menentukan tahun-tahun pemerintahan raja-raja.
Dalam seminar nasional folktale sawerigading yang di selenggarakan Universitas
Tadulako di Palu, pada tanggal 7 sampai dengan 10 mare 1987, penulis telah
mencoba menelusuri waktu dan tahun pemerintahan seorang raja. Hasil pengkajian
terhadap Lontarak Sukkukna Wajo, di peroleh keterangan bahwa Datu luwu’ La
Pattiwarek Daeng Parabbung ( Di Luwu’ di sebuk pattiarasek) di islamkan oleh
datuk sulaiman pada tahun 1603. Menurut Lontarak Nb No. 208 bahwa ada 13 orang
raja yang mendahului La Pattiwarek. Jika setiap raja-raja memerintah rata-rata
25 tahun, maka raja pertama di Luwu’ simpurusiangdi hitung sekitar tahun 1253
atau pertengahan abad ke 13. Dalam silsilah kerajaan luwu menyatakan bahwa
Simpurusiang adalah putera We Tenriabeng bersama rammang ri Langik. Permainsuri
simpuurusiang adalah patianjala menurut tradisi lisan ia lahir di peretiwi-Toddatoja
sesudah peristiwa “turungnya perahu Sawerigading bersama keluarganya” Ke urik
liung ( dunia bawah) yang disungai cerekang, kalau demikian, sawerigading hidup
di sekitar tahun 1053 ( Generasi ke empat), sedang batara Lattuk hidup pada tahun
1028 dan batara guru sekitar tahun 1003.
Kesulitan kedua muncul,
karena lontarak bone (matthes, Boegineesche chrestomathie II) menyatakan bahwa
setelah raja-raja yang tercantum di dalam buku Galigo habis semua karena turung
ke benua bawah , maka Pitu tutturenna dek na Arung ( tujuh generasi tidak ada
lagi raja). Jika Lontarak cerita Bone ini di arikan secara harfiah, maka tujuhg
generasi itu adalah 175 tahun. Kalau angka ini di pegang maka berarti
sawerigading hidup di sekitar tahun 878 dan batara Guru (neneknya) hidup di
sekitar 828. Konsekuensi dari perhitungan ini, maka simpurusiang, Datu Luwu’
pada masa sejarah ( atau masa Lontarak) bukanlah putra We Tenriabeng atau
kemanakan dari sawerigading, melainkan di duga keras adalah keturunannya yang
muncul kembali di Luwu’.
Cerita kemunculan
Simpurusiang yang di anggap To manurung ( Raja Pertama) pada masa sejara di
luwu’ mempunyai pola yang sama dengan turunnya raja pertama batara Guru di
Ussuk dalam masa Galigo ( Pra Sejarah ) keduanya di anggap To manurung yaitu
orang yang turung dari langit. Pola yang sama pula Karena hampir semua raja
pertama yang ada di Sulawesi selatan kecuali Wajo’ semuanya di sebut To
Manurung. Lukisan dari lontarak menyebutkan “Naniasseng garek To Manurung
Nasabak Tenrisseng apolegenna, Tenrisetto inanna amanna” (di sebut to manurung
sebab tidak di ketahui dari mana datangnya dan tidak pula di ketahui ayah dan
ibunya). Jadi yang menyebutnya To Manurung bukan raja sendiri atau pengikutnya
, melainkan penulis Lontarak sendiri.
Sumber dari buku SEJARAH
SULAWESI SELATAN yang di tuluis oleh Prof. Mr. Dr. andi zainal Abidin yang di
bantu oleh Drs. Sudirman Sabang.
Tuesday, 30 May 2017
Sejarah
Karaeng Pattingalloang
Selasa, 30 Mei 2017 jam 10:59 di ruangan Laboratorium Komputer Pendidikan Teknik Elektronika UNM
Pada Kesempatan kali ini Saya akan mencoba membahas tentang sejarah Karaeng Patingalloang yang merupakan salah satu orang yang mempunyai sejarah yang sangat berpengaruh pada saat itu.
Dalam Lontara Pa'pasanna Gowa, terdapat
beberapa pesan Karaeng Pattingalloang yang walaupun usianya sudah mencapai
ratusan tahun tetapi masih cocok diterapkan atau juga masih berlaku hingga saat
ini. Diantaranya adalah pesan Karaeng Pattingalloang mengenai "lima sebab
hancurnya sebuah negeri " yang terkenal itu, atau dalam bahasa Makassar "Lima
Pammangjenganna Matena Butta Lompoa", juga pesan-pesan Karaeng
Pattingalloang lainnya seperti halnya pesan mengenai KATOJENGANG :
"NIKANAYA KATOJENGANG SANGRAPANGI BULO SIPAPPA, NIONJOKI POKO'NA AMMUMBAI
CAPPA'NA, NIONJOKI CAPPA'NA GIOKI POKO'NA". (Suatu kebenaran ibarat satu
batang bambu, bila diinjak pangkalnya muncul pucuknya, demikian halnya bila di
injak pucuknya akan muncul pangkalnya).
Makna
dari pesan tersebut adalah bahwa kebenaran itu tidaklah bisa dikalahkan oleh
kebatilan. Yang benar memang bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi
benar, tapi bagaimanapun pintarnya seseorang untuk melenyapkan (menutupi) suatu
kebenaran suatu saat kebenaran tersebut akan muncul baik itu di tempat lain
ataupun diwaktu lain. Meski ternoda oleh jalan-jalan kekejian tatkala kejahatan
berkuasa. Pesan Karaeng Pattingalloang tentang "Katojengan" ini juga
secara tidak langsung mengingatkan kepada kita bahwa kebenaran itu haruslah
ditegakkan kapan dan dimana saja. Riwayat Singkat Karaeng Pattingalloang
Karaeng Pattingalloang adalah seorang maha sarjana tanpa gelar dan titel Doktor
namun diakui dan dipuji dimana-mana kecendekiawannya. Dia adalah I Mangadacinna
Daeng Sitaba Sultan Mahmud, salah seorang putera dari Raja Tallo IV I
Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara. Karaeng
Pattingalloang diangkat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (1639-1654)
mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah tahun 1639-1653. Menggantikan
ayahandanya Karaeng Matoaya.
![]() |
| Perjalanan Pattingalloang |
Pada
saat ia menjabat sebagai Mangkubumi, Gowa telah menjadi sebuah kerajaan
terkenal yang mengundang perhatian negeri-negeri lainnya. Tercatat bahwa kota/
bandar Makassar sebagai pusat ibu kota saat itu, telah berkembang menjadi
bandar niaga yang amat ramai di kunjungi, baik oleh pedagang-pedagang kerajaan
lain di Nusantara maupun oleh bangsa-bangsa asing. Dan malahan dianggap Malaka
kedua sesudah Portugis menduduki Malaka (1511). Begitu pesatnya kemajuan yang
dicapai Gowa, sehingga sekitar tahun 1615 penduduknya mencapai jumlah 100.000
jiwa, yang diantaranya terdapat ribuan orang-orang melayu, Arab, dan bangsa
Eropa seperti Inggris, Portugis, Denmark, dan Belanda. Salah satu keistimewaan
dari kepandaian Karaeng Pattingalloang yang mengagumkan, ialah kemampuannya
menguasai dan berkomunikasi dalam beberapa bahasa Asing antara lain bahasa
Portugis, Spanyol, Latin, Inggris, Perancis, Belanda dan Arab. Semua pendatang
Eropa serempak memujinya, termasuk orang Belanda yang selalu bermusuhan dengan
orang-orang Makassar. Alexander Rhodes, seorang misionaris Katholik di Makassar
pada tahun 1646 menulis tentang Karaeng Pattingalloang, antara lain sebagai
berikut : "Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai semua
rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, tiap hari
dan tiap malam ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat.
Mendengarkan
ia berbahasa Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa
orang yang bercerita itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon".
Seperti ayahandanya yang amat gemar mempelajari ilmu pengetahuan, Karaeng
Pattingalloang pun mewarisi semangat kecendekiawanan. Ia juga sekaligus
merupakan sosok seorang ilmuwan. Menurut catatan Fride Rhodes, ia menghayati
Tehnical Inovation Europe, dan ia merupakan orang Asia Tengggara pertama yang
menyadari pentingnya matematika guna ilmu-ilmu terapan (Aplied Science).
Bukan
hanya buku-buku yang gemar dikumpulkannya, tetapi juga pelbagai macam
benda-benda yang penting untuk ilmu pengetahuan seperti globe (bola dunia),
peta dunia dengan deskripsi dalam bahasa Spanyol, Portugis dan bahasa Latin,
buku ilmu bumi, atlas. Karaeng Pattingalloang juga menyukai hadiah orang-orang
asing mulai yang berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan
sebagainya. Pada globe yang terbuat dari tembaga, yang dihadiahkan oleh VOC
kepada Karaeng Pattingalloang, penyair terkenal Belanda Jost Van Den Vondel
pada masa itu, telah menaruh kalimat pujian bahwa beliau adalah "seorang
yang otaknya selalu mencari-cari dan seluruh dunia terlalu kecil baginya".
Pada tahun 1652 sebuah perahu Inggris menyerahkan teleskop "Galilean
Prospechtive Glass" ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikussaid,
yang dipesan dan dibeli oleh Raja Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1653.
Demikian
Karaeng Pattingalloang telah tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan
Kerajaan Gowa di masa lalu, ketika Gowa mencapai puncak kejayaannya.
Diriwayatkan, Karaeng Pattingalloang kemudian wafat sebagai pejuang Kerajaan
Gowa pada tanggal 15 September 1654, ketika ikut dalam barisan Sultan
Hasanuddin melawan Belanda, ketika itu armada Kerajaan Gowa kembali dari Buton
membebaskan daerah itu dari penguasaan Belanda. Sejak wafatnya, ia kemudian
mendapat sebutan "Tumenanga ri Bontobiraeng". Putranya yang kemudian
menggantikannya sebagai Mangkubumi ialah Karaeng Karunrung.
sumber : http://www.kompasiana.com/adilagaruda/katojengang-karaeng-pattingalloang_55001e4da333114f7550f953
Monday, 17 April 2017
On April 17, 2017 by zainuddin in Sejarah No comments
Raja-raja Gowa Awal pemerintahan
![]() |
| Rumah Adat Balla Lompoa |
Kerajaan
Gowa diperintah oleh raja wanita yang disebut Sombaya. Raja pertama Gowa ini
disebut Tumanurung, artinya “orang yang turun dari langit/kahyangan”.
Menurut Sejarah Gowa, karena Tumanurung turun dari langit di daerah
Tamalate di Gowa, maka sering disebut Tumanurunga ri Tamalate (orang yang turun
di Tamalate). Meski raja pertama Gowa seorang wanita, namun setelah itu, tidak
pernah lagi takhta Kerajaan Gowa diduduki wanita. Sejak itu pula seorang wanita
tidak berhak menduduki takhta Gowa.
Menurut Sejarah
Gowa, sebelum ada raja di Gowa, Gowa terdiri atas sembilan buah negeri atau
daerah yang masing-masing dikepalai oleh seorang penguasa. Mereka ini merupakan
raja-raja kecil di kesembilan negeri itu. Negeri-negeri itu:Tombolo’, Lakiung,
Saumata, Parang-Parang, Data’, Agang Je’ne’, Bisei, KalIi’ (KaIling), dan
Sero’.
Kemudian
kesembilan penguasa atau raja-raja kecil itu membentuk sebuah gabungan atau
federasi. Gabungan ini diketuai oleh seorang pejabat yang
disebut paccallaya. Ialah yang bertindak sebagai ketua pemerintahan
gabungan atau federasi Gowa. Paccallaya ini merupakan “ketua dewan”
yang terdiri dari penguasa-penguasa yang bergabung itu. Paccallaya juga
bertindak sebagai hakim tertinggi, apabila terjadi sengketa atau pertentangan
di antara penguasa-penguasa yang bergabung dalam federasi Gowa itu.
Penguasa-penguasa itu berdiri sendiri dan bebas mengatur pemerintahan di dalam
daerahnya masing-masing.
Entah
berapa lamanya pemerintahan gabungan itu berjalan. Pada suatu
waktu paccallaya dan penguasa-penguasa atau raja-raja kecil itu
masygul. Mereka tidak memunyai seorang raja. Tetapi mereka juga tidak mau
memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi raja Gowa.
Tidak
lama kemudian terdengarlah berita bahwa di sebuah tempat lain di Gowa ada
seorang putri yang turun dari kahyangan. Maka paccallaya bersama
kesembilan orang penguasa atau raja-raja kecil itu pun berangkat menuju ke
tempat tersebut. Berita itu ternyata benar. Paccallaya dan kesembilan
orang penguasa itu menemukan seorang wanita cantik. Wanita itu memakai sebuah
kalung emas yang sangat indah buatannya. Siapa nama dan dari mana asal wanita
cantik itu tidak diketahui. Hanya dikatakan bahwa wanita itu turun dari
kahyangan. Kemudian wanita itu dinamakan Tumanurunga.
Lain
halnya di Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Seorang wanita dapat dan berhak
menduduki takhta Kerajaan. Misalnya, Kerajaan Bone mengenal beberapa orang raja
perempuan yang terkenal di dalam sejarah. Kita sebutkan antara lain: We
Banrigau Daeng Marowa Arung Majang (ratu keempat Bone), We Tenrituppu Matinroe
ri Sidenreng (ratu kesepuluh), Batari Toja Arung Timurung I Maning Aru Data
Matinroe ri Kassi (raja ke-25), dan Basse Kajuara Palaengngi Passempe.
Raja
Gowa yang paling dikehendaki dan paling memenuhi syarat adalah Karaeng Ti’no
(karaeng = raja, ti’no = masak atau matang). Ayah maupun ibunya
berdarah bangsawan tertinggi dan keturunan langsung dari Tumanurunga ri
Tamalate (ratu pertama Gowa).
Raja
Gowa memunyai kekuasaan yang mutlak (absolut). Betapa mutlaknya kekuasaan raja
Gowa dapatlah kita gambarkan pada sebuah kalimat dalam bahasa Makassar:
“Makkanama’ numammio" (Aku berkata dan engkau mengiyakan). Maksudnya,
segala titah atau perintah raja Gowa harus ditaati dan dipatuhi. Segala
kata-kata raja Gowa harus dilaksanakan, tidak boleh dibantah sedikit pun.
Seperti
dikatakan tadi, calon raja Gowa yang paling memenuhi syarat ialah dari golongan
atau tingkatan “karaeng ti’no” yakni yang ayah ibunya berdarah bangsawan
tertinggi dan seorang keturunan langsung dan Tumanurunga ri Tamalate, raja
pertama Gowa. Calon atau putra raja yang demikian itu disebut ana
pattola artinya “anak pengganti raja” (mattola = mengganti, menggantikan; pattola =
pengganti).
Ada
dua macam atau cara pelantikan raja Gowa. Yang pertama
disebut nilanti (dilantik) dan yang kedua
disebut nitogasa (ditugaskan). Jika calon raja itu
seorang Karaeng Ti’no, anak pattola sejati, maka ia akan nilanti.
Jika calon raja itu bukan seorang Karaeng Ti’no, bukan anak pattola sejati,
maka ia hanya nitogasa.
Upacara
penobatan raja Gowa yang disebut nilanti dilakukan di tamalate.
Upacara ini dilakukan di atas sebuah batu yang menurut riwayat adalah tempat
Tumanurunga turun dari langit. Upacara nitogasa dilakukan di depan
istana saja. Tentu saja upacara nilanti lazimnya lebih megah, meriah
dan lebih besar sifatnya daripada upacara nitogasa.
Pembantu-pembantu
Raja
Dalam
menjalankan pemerintahan raja Gowa dibantu oleh beberapa orang pembesar atau
pejabat kerajaan, yakni:
1. pabbicara
butta (juru bicara tanah atau juru bicara negeri);
2. tumailalalang
towa (tu = orang; ilalang = dalam; towa = tua);
3. tumailalang
lolo (tu = orang; ilalang = dalam; lolo = muda).
Di
samping itu raja Gowa dibantu oleh sebuah lembaga “perwakilan rakyat” yang
disebut Bate Salapanga (bate = panji, bendera; sialapang =
sembilan). Jadi, bate salapanga berarti pemegang bendera atau pembawa
panji yang berjumlah sembilan orang. Mula-mula lembaga ini
disebut Kasuwiang Salapanga (kasuwiang =
mengabdi; salapang = sembilan). Jadi, kasuwiang
salapanga berarti "pengabdi yang sembilan orang".
Lembaga Kasuwiang Salapanga yang kemudian menjadi Bate
Salapanga ini memang terdiri atas sembilan orang anggota.
1.
Pabbicara butta
Pabbicara
butta adalah orang kedua sesudah raja Gowa. Jadi jabatan pabbicara
butta dapat disamakan dengan perdana menteri, mahapatih, atau mangkubumi
Kerajaan Gowa. Dalam Sejarah Gowa, pada masa pemerintahan raja Gowa yang
ke-9 Tumapa’risi Kallonna, Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo disatupadukan
kembali. Penyatuan kedua kerajaan itu dikuatkan oleh ucapan sumpah raja-raja
dan para pembesar kedua kerajaan itu. Sumpah itu di dalam bahasa Makassar
berbunyi: “Ia Iannamo Tau Ampassi Ewai Gowa-Tallo Iamo Nacalla Rewata”. artinya:
“Siapa-siapa saja yang mengadudomba Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, maka
orang itu akan dikutuk oleh dewata”.
Sejak
itulah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo, terutama dalam hubungan keluar,
merupakan satu kerajaan yang bersatu. Betapa kokoh perpaduan antara kedua
kerajaan bersaudara itu, dapat dilihat dalam ungkapan bahasa Makassar: Rua
karaeng se’re ata artinya “Dua raja namun satu hamba”. Maksudnya, dua raja
memerintah atas rakyat yang tetap satu. Sejak itu pula raja Tallo dan keturunan
pengganti baginda pada lazimnya diangkat menjadi pabbicara
butta Kerajaan Gowa.
Pabbicara
butta atau mangkubumi Kerajaan Gowa yang merangkap menjadi raja Tallo dan
yang terkenal di dalam sejarah, antara lain ialah:
a.
Karaeng Matoaya
| Karaeng Matoayya |
Karaeng
Matoaya juga terkenal dengan nama Sultan Abdullah Awalul Islam Tumenanga ri
Agamana. la adalah raja Sulawesi Selatan yang mula-mula sekali memeluk Islam.
Yang mengislamkan ialah Khatib Tunggal Abdul Makmur yang lebih dikenal oleh
orang-orang Sulawesi-Selatan gelarnya, Dato’ ri Bandang.
Ada
tiga orang yang terkenal sebagai penyebar agama Islam di Sulawesi Selatan. Yang
pertama ialah Khatib Tunggal alias Dato’ ri Bandang. la bersama dua orang
temannya lagi, yakni Khatib Sulaiman yang terkenal dengan gelarnya Dato’ ri
Patimang, dan Khatib Bungsu yang kemudian terkenal dengan gelarnya Dato’ ri
Tiro karena ia wafat di Desa Tiro. Khatib Tunggal alias Dato’ ri Bandang ini
seorang ulama yang berasal dari Kota Tengah di Minangkabau, Sumatra Barat. Oleh
karena itu, ia diberi gelar Dato’, berasal dari gelar orang-orang Minangkabau,
Datuk.
Karaeng
Matoaya memeluk Islam pada 9 Jumadil Awal 1014 Hijrah (22 September 1605). Oleh
karena baginda adalah raja yang mula-mula sekali memeluk Islam di Sulawesi
Selatan, maka baginda mendapat gelar “Sultan Abdullah Awalul Islam”. Ia
terkenal sangat taat pada Islam. Oleh karena itu, setelah wafat pada 10 Oktober
1636 di Tallo, ia mendapatkan gelar anumerta: Tumenanga ri Agamana (raja atau
orang yang wafat dalam agamanya). Ada juga yang menyebut Tumenanga ri Tappa’na
(raja atau orang yang wafat dalam kepercayaannya). Ialah yang berjasa mengajak
kemenakannya, Sultan Alauddin raja Gowa yang ke-14, untuk masuk Islam.
Tidak
lama kemudian, Islam telah menjadi agama kerajaan di Gowa. Sembahyang Jumat
yang pertama di Tallo diadakan pada 9 November 1607 atau 19 Rajab 1016 Hijriah.
Setelah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo menjadi Kerajaan Islam dan
raja-rajanya telah memeroleh gelar sultan, kedua kerajaan itu menjadi pusat
penyebaran Islam di seluruh Sulawesi Selatan. Dalam hal ini Karaeng Matoaya
,alias Sultan Abdullah Awwalul Islam, raja Tallo ke-6, merangkap
sebagai tumabbicara butta Kerajaan Gowa, sangat besar sekali jasanya.
b.
Karaeng Pattingalloang
![]() |
| Karaeng Patingalloang |
Karaeng
Pattingalloang, raja ke-8 Tallo, mulanya menjabat sebagai pabbicara
butta Kerajaan Gowa pada zaman pemerintahan raja ke-15 Gowa, Sultan
Muhammad Said Tumenanga ri Papambatunna.
Karaeng
Pattingaloang terkenal sebagai seorang cendekia dan menguasai serta mahir
beberapa bahasa asing. Karaeng Pattingaloang terkenal pula dengan nama Sultan
Mahmud Tumenanga ri Bontobiraeng.
Pabbicara
butta biasa pula menjadi wali dan pemangku raja jikalau putra mahkota atau
raja masih belum mencapai usia untuk memegang sendiri tampuk
pemerintahan. Pabbicara butta memunyai pengaruh dan kekuasaan yang
besar sekali. Pabbicara butta-lah yang memerintah atas nama raja Gowa. Pada
mulanya jabatan pabbicara butta diadakan karena putra mahkota atau
raja Gowa masih belum dewasa. Kemudian jabatan pabbicara butta tetap
ada meski raja sudah dewasa dan memegang sendiri pemerintahan.
Tugas pabbicara butta di dalam bahasa Makassar sering disebut
“mabbaIigau”, artinya “membantu (raja Gowa) memerintah” atau “pasangan raja
dalam memerintah”. Demikianlah, sejak dari Batara Gowa menjadi raja ke-7 Gowa
dan Karaeng Loe ri Sero menjadi raja pertama Tallo, raja-raja Tallo selalu
menjadi baligau (patih) raja Gowa.
2.
Tumailalang Towa
la
adalah seorang pejabat atau pembesar kerajaan yang menyampaikan dan meneruskan
segala perintah raja Gowa kepada bate salapanga, kepada para kepala
distrik atau kepala wilayah, kepada para bate anak karaeng, dan lain-lain.
la menjaga pula agar supaya segala perintah raja Gowa dilaksanakan
sungguh-sungguh. Ia sering pula memimpin sidang-sidang yang diadakan untuk
membicarakan soal-soal yang sangat penting. Tumailalang towa-lah yang
menyampaIkan kepada sidang tersebut segala kehendak dan titah raja Gowa. Segala
keputusan, saran-saran, atau pesan-pesan raja Gowa disampaikan
oleh tumailalang towa.
3. Tumailalang
Lolo
Pejabat
kerajaan ini selalu berada di dekat raja Gowa. Ialah yang menerima usul-usul
dan permohonan untuk disampaikan kepada raja Gowa. Ia meneruskan segala
perintah raja Gowa mengenai soal-soal rumah tangga istana. Di dalam masa
perang, ia sering bekerja bersama dengan panglima pasukan-pasukan Kerajaan Gowa
yang disebut “anrongguru-lompona-tumak-kajannangnganga”. Mereka sering
membicarakan dan merencanakan segala soal yang bersangkut-paut dengan soal
peperangan.
Jabatan tumailalang
towa dan tumailalang lolo diangkat dan dipecat oleh raja
Gowa. Tumailalang towa dan tumailalang lolo pun
menghubungkan secara timbal balik antara pemerintah atau raja Gowa dengan
rakyat Gowa yang diwakili oleh bate salapanga.
Dahulu,
kedua fungsi itu dipegang oleh pacallaya, lalu
oleh tumailalang (orang yang di dalam). Jadi,
mula-mula tumailalang yang menggantikan
kedudukan paccallaya hanya ada satu orang. Kemudian dijadikan dua
orang, yakni tumailalang towa dan tumailala lolo. Fungsinya pun
dipecah menjadi dua, yakni: hubungan dari raja Gowa ke bate
salapanga dipegang oleh tumailalang towa, sedang hubungan
dari bate salapanga ke raja Gowa harus melalui tumailalang lolo.
Dengan demikian, bate salapanga dapat disamakan dengan parlemen atau
Dewan Perwakilan Rakyat.
1.
Kasuwiang Salapanga (Bate Salapanga)
Setelah
diangkat Tumanurunga menjadi raja Gowa, maka kedudukan kesembilan orang
penguasa itu mengalami perubahan. Kekuasaan mereka beralih dan jatuh ke tangan
Tumanurunga selaku raja atas seluruh daerah Gowa. Kemudian mereka hanya
merupakan Kasuwiang Salapanga (pengabdi yang sembilan orang). Dengan
begitu, mereka merupakan sembilan orang kepala negeri yang wajib berbakti atau
mengabdi kepada raja Gowa. Kemudian Kasuwiang Salapanga ini berubah
menjadi Bate Salapanga (sembilan orang pemegang bendera/panji).
Kesembilan orang inilah yang kemudian menjadi anggota Hadat
Sembilan Kerajaan Gowa.
Tiap
anggota bate salapanga adalah kepala pemerintahan di wilayah yang
merupakan federasi Gowa. Dahulu Gowa merupakan suatu federasi yang terdiri dari
sembilan buah negeri atau daerah. Tiap-tiap negeri atau daerah itu dikepalai
oleh seorang penguasa yang merupakan raja kecil. Ketua dari bate
salapanga disebut pacallaya.
Bate
salapanga ini kerap kali mengalami perubahan. Susunannya tidak lagi sama
dengan yang disebutkan di atas tadi. Misalnya, di sekitar tahun 1900 bate
salapanga terdiri atas: Gallarang Mangngasa, Gallarang Tombolo, Gallarang
Saumata, Gallarang Sudiang, Gallarang Paccellekang, Karaeng Pattallassang,
Karaeng Bontomanai, Karaeng Manuju, dan Karaeng Borisallo.
Bentuk
pemerintahan Kerajaan Gowa di bawah pimpinan Tumanurung, raja pertama Gowa,
mengandung unsur-unsur demokrasi yang terbatas. Antara Tumanurung di satu pihak
dan paccallaya dan Kasuwiang Salapanga di lain pihak,
dibuat sebuah ikrar atau perjanjian. Dalam perjanjian itu disebutkan tentang
pembagian tugas dan batas-batas wewenang antara raja yang memerintah dan rakyat
yang di perintah yang diwakili oleh Kasuwiang Salapanga.
Dalam
perjanjian yang dibuat antara raja pertama Gowa dengan Kasuwiang
Salapanga itu dapat dilihat dengan jelas bahwa pada mulanya pemerintahan
Kerajaan Gowa mengandung unsur-unsur demokrasi yang terbatas. Akan tetapi,
lambat-laun unsur-unsur demokrasinya menjadi kabur dan menjadi mutlak (absolute
monarchie) makin lama makin menonjol. Raja seolah-olah menguasai hidup dan
matinya rakyat. Kehendak raja Gowa adalah undang-undang dan tidak boleh
dibantah.
Meski
dewan ini berwenang memilih raja, para anggota Bate Salapanga tidak memunyai
wewenang untuk membuat undang-undang. Mereka tidak berwewenang untuk
menjalankan pemerintahan di seluruh Kerajaan. Mereka harus taat dan menjalankan
segala perintah raja. Bahkan kemudian mereka pun bukan lagi merupakan badan
penasihat. Raja memerintah secara mutlak. Sabda baginda merupakan undang-undang
yang harus ditaati dan dilaksanakan.
2.
Anrong-guru-Lompona tumak-kajannangnganga
Dia
inilah yang menjadi panglima pasukan-pasukan Kerajaan Gowa pada masa perang.
Pada masa damai ia ditugaskan menjaga agar orang-orang, mentaati dan
melaksanakan segala perintah raja Gowa. Jika ada orang yang membangkang dan
dianggap perlu ditindak dengan kekerasan, maka tugas karaeng tumakajannangngang
untuk menindaknya. Ia bertugas menumpas pemberontakan dan memberantas
pengacau-pengacau yang mengganggu keamanan dalam negeri. Ia juga bertugas
menjaga keamanan pribadi raja Gowa dan keluarga baginda.
3.
Lomo-tumak-kajannangnganga
Di
bawah anrong-guru-Lompona tumak-kajannangnganga ada lagi jabatan yang
disebut Lomo- tumak-kajannangnganga. Sebagai wakil atau pengganti panglima
perang ia meneruskan segala perintah karaeng
tumakajannangnganga kepada para bawahannya yang disebut anronggurunna
tumakkajannangnganga.
4.
Anrong-Guru-Lompona tu Bontoalaka
Kemudian
ada lagi jabatan penting sebagai pemimpin pasukan yang
disebut Anrong-Guru-Lompona tu Bontoalaka. Ia adalah pemimpin
tertinggi pasukan-pasukan orang-orang Bontoala. Bontoala adalah sebuah kampung
di bagian timur Kota Makassar atau Ujung Pandang. Kampung ini merupakan tempat
tinggal orang-orang tawanan perang yang kemudian dimerdekakan dan menjadi warga
Kerajaan Gowa. Mereka ini memunyai seorang kepala atau pemimpin sendiri yang
disebut Karaeng Bontoala (karaeng = raja). Setelah peperangan antara
Kerajaan Gowa dengan VOC berakhir, maka Kampung Bontoala diduduki oleh Aru
(Arung) Palakka. Di sinilah Aru Palakka tinggal dan kemudian wafat. Oleh karena
itu, Aru Palakka memeroleh gelar anumerta “matinrowe ri Bontoala”, artinya yang
tidur (wafat) di Kampung Bontoala.
5.
Anrong-gurunna tu bontoalaka
Di
bawah karaeng bontoala atau anrong-guru-lompona tu
bontoalaka, ada lagi pemimpin-pemimpin orang-orang Bontoala yang
disebut anrong-gurunna tu bontoalaka.
6.
Bate-Anak-Karaeng
Ada
lagi jabatan yang disebut Bate-Anak-Karaeng. Mula-mula daerah
kekuasaan bate anak karaeng merupakan daerah-daerah yang bebas dan
berdiri sendiri. Kemudian daerah-daerah ini dikalahkan dan menjadi daerah
takluk Kerajaan Gowa. Lalu daerah-daerah itu dihadiahkan oleh raja Gowa kepada
salah seorang “anak karaeng” atau anak raja/anak bangsawan yang dianggap
berjasa. Anak karaeng inilah yang menjadi raja kecil atau penguasa di
daerah bate-anak-karaeng itu. Semua orang di daerah itu harus tunduk
dan melaksanakan segala perintah anak karaeng yang mendapatkan hadiah dari raja
Gowa itu. Lazimnya mereka yang memperoleh
daerah bate-anak-karaeng itu masih berkeluarga dekat dengan raja yang
berkuasa. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jikalau di dalam
upacara-upacara adat yang resmi para bate-anak-karaeng ini didudukkan
di tempat yang terhormat. Bahkan sering di tempat yang lebih tinggi tingkatnya
dari pada para anggota bate salapanga.
7.
Sabannara
Sabannara atau
syahbandar merupakan pula jabatan yang cukup penting di dalam Kerajaan Gowa
yang merupakan kerajaan maritim. Sabannara membantu raja mengurus
soal keluar masuknya perahu-perahu di pelabuhan
Kerajaan. Sabannara mengurus soal pemasukan uang pajak bea dan cukai.
Selain itu, sabannara sering ditugaskan mengurus soal pemasukan uang
untuk harta kekayaan raja sendiri. Dahulu Kerajaan Gowa memunyai dua
orang sabannara, yakni Sabannara Towa dan Sabannara Lolo.
Pangkat sabannara biasanya dijabat oleh seorang bangsawan, keturunan
atau keluarga raja. Bahkan semua jabatan penting yang sudah disebutkan tadi, sedapat
mungkin dijabat oleh orang-orang bangsawan keluarga raja.
8.
Qadhi
Soal-soal
agama, perwakilan, dan lain-lainnya diurus oleh syara’ yang dikepalai oleh
seorang qadhi. Ia dibantu oleh pegawai-pegawai atau petugas-petugas syara’
seperti: imam, khatib, bilal, doja, dan lain-lain.
Selain
jabatan-jabatan yang disebutkan tadi, masih ada lagi beberapa pangkat atau
jabatan yang patut disebutkan, antara lain: karaeng, gallarang, anrong guru,
jannang, pabbicara, dan matowa. Mereka ini biasanya mengepalai pemerintahan
sebuah wilayah atau daerah.
On April 17, 2017 by zainuddin in Sejarah No comments
Asal Usul Nama Gowa
Nama Gowa hingga saat ini belum diketahui pasti asal usulnya, mengingat belum
ada sebuah buku lontarak pun yang menerangkannya, hanya saja ada beberapa
pendapat dari ahli sejarah seperti Ahmad Makka Rausu Amansya Daeng Ngilau, mengemukakan
bawah nama Gowa mungkin sekali berasal dari kata “GOARI” yang berarti “kamar
atau bilik”. Kemudian Prof. Mattulada menerangkan makna kata Gaori itu berarti
“Penghimpunan” ke dalam suatu tempat atau ruangan. Biasanya penghimpunan
sejumlah (pemimpin) kaum secara bersama-sama menyatukan diri dalam suatu
persekutuan teritorial.
Menurut Andi Ijo Karaeng, nama Gowa sebenarnya berasal dari perkataan ‘Gua”
yang berarti “liang” di mana sekitar tempat Hulah ditemukan hadirnya
Tumanurunga sebutan. Lahirnya penyebutan Gowa sebagai nama kerajaan, mungkin
juga tidak terlepas dari sejarah pengangkatan Tumanurunga menjadi raja Gowa
pertama. Diriwayatkan pada masa sebelum hadir Tumanurunga di butta Gowa, ketika
itu Gowa berbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang mengikatkan diri dalam bentuk
persekutuan (Bondgenoot) atau pemerintahan gabungan (Federasi) di bawah
penguasaan Paccailaya (ketua dewan hakim pemisah). Kesembilan Kasuwiang disebut
juga Kasuwiang Salapanga atau “Sembilan kelompok kaum” yang mewakili masing-masing
dalam persekutuan itu ialah :
1. Kasuwiang Tombolo
2. Kasuwiang Lakiung
3. Kasuwiang Samata
4. Kasuwiang Parang-parang
5. Kasuwiang Data
6. Kasuwiang Agang Je’ne
7. Kasuwiang Bisei
8. Kasuwiang Kailing
9. Kasuwiang Sero
Kondisi tanah Gowa masa sebelum hadirnya Tumanurunga senantiasa dilanda perang
saudara antara Gowa bagian utara dan Gowa bagian selatan seberang Jeneberang.
Oleh karena itu diperlukanlah seorang pemimpin yang berwibawa untuk
mengatasinya. Diriwayatkan terdengarlah berita oleh Paccallaya bahwa ada
seorang putri yang turun dari atas bukit Tamalate tepatnya di Taka’bassia.
Orang-orang yang berada di Bontobiraeng melihat sesuatu di sebelah utara
seberkas cahaya di atas, bergerak perlahan-lahan turun ke bawah ternyata menuju
Taka’bassia tepatnya persis di atas sebuah bongkahan batu perbukita. Gallarang
mangasa dan tombolok yang memang diserahi tugas mencari tokoh yang bisa menjadi
pemersatu kaum dalam persekutuan Butta Gowa. Paccailaya bersama kesembilan
kasuwiang bergegas ke Taka’bassia. Mereka duduk mengelilingi cahaya tersebut
sambil bertafakkur. Serta merta dari cahaya menjelma wujud manusia, seorang
wanita cantik menakjubkan dengan memakai pakaian kebesaran yang mengagumkan
kasuwiang salapanga dan paccallaya tak mengetahui nama dari puteri ratu
tersebut sehingga diberi nama “Tumarunung Bainea” atau Tumarununga yang artinya
orang (wanita) yang menjelma yang turun dari atas dan tidak diketahui asal
usulnya.
Paccallaya dan kasuwiang salapangan kemudian bersepakat menjadikan Tumanurunga
raja, dan memberitahukan kepada oragn-orang yang berperang agar menghentikan
pertempuran. Paccallaya kemudian mendekati Tumanurunga dan bersembah
“Sombangku!” (Tuanku) kami datang semua ke hadapan sombangku, kiranya sombangku
sudi menetap di negeri kami dan sombakulah yang merajai kami”. Permohonan
Paccallaya pun dikabulkan oleh Tumanurunga dan berseru kepada orang banyak yang
hadir di tempat itu, “Sombai karaengnu tu Gowa!” (sembahlah rajamu hai orang
Gowa), maka gemuruhlah orang banyak “Sombangku”. Mungkin sejak itulah bermula
nama Gowa dipergunakan secara resmi sebagai sebutan bagi kerajaan Gowa.
Wednesday, 12 April 2017
On April 12, 2017 by zainuddin in Sejarah 2 comments
Arung Palakka Melawan Sultan
Hasanuddin
Kali ini sy akan mencoba mengungkap kisah perlawanan antara Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin yang dimana Arung Palakka pada saat itu bekerja sama dengan Laksamana Cornelis speelman.
![]() |
| Sultan Hasanuddin |
Pada tanggal 24 november 1666 berangkatlah arung palakka ke
Sombaopu, meninggalkan dari Batavia dengan kekuatan tempur sebanyak 21 kapal
perang, bersama 1000 orang pasukan gabungan yang terdiri dari 600 orang serdadu
Belanda, dan 400 orang laskar Arung Palakka.
Armada itu dipimpin oleh Laksamana Cornrlis Speelman, yang
didukung sebuah kapal induk bernama thertolen . Kapal perang tersebut, tiba di
pelabuhan Sombaopu pada tanggal 19 desember 1666 setibanya Sombaopu speelman
mengutus utusannya untuk menemui Sultan Hasanuddin, guna meinta ganti rugi atas
tenggelamnya sebuah kapal Belanda beserta 15 awak kapalnya yang mati terbunuh
oleh orang-orang makassar didekat pulau doang-doangan beberapa bulan
Sebelumnya.
Melalui utusannya Laksamana Speelman, ia meminta kepada
Sultan Hasanuddin agar dapat menyerahkan semua orang-orang makassar yang pernah
membunuh orang-orang Belanda tersebut, namun Sultan Hasanuddin menolaknya dan
hanya mengirimkan uang emas sebanyak 1056 buah dan 1435 ringgit perak, uang
emas tersebut adalah sebagai tebusan orang-orang belanda yang dibunuh dipulau
doang-doangan, sedangkan uang ringgit itu berasal dari kapal de leeuwinnw yang
kandas dipulau itu, akan tetapi Speelman menolaknya.
Dari apa yang telah diserahkan oleh Sultan Hasanuddin kepada
Laksaman Speelman itu, ternyata tidak ada pengaruhnya lagi, karena Speelman
bersama Arung Palakka sudah bertekad untuk menggempur Sultan Hasanuddin.
Karena tuntutan Laksamana Speelman tidak dipenuhi, maka tanggal 21 desember
1666 laksamana speelman memerintahkan untuk menaikkan bendera warna merah di
atas kapal perangnya sebagai tanda permakluman perang kepada kerajaan gowa,
kemudian melakukan penembakan mariam yang diarahkankebentengsombaopu.
ARUNG PALAKKA BERSAMA BELANDA MENYERANG BENTEN SOMBA OPU :
ARUNG PALAKKA BERSAMA BELANDA MENYERANG BENTEN SOMBA OPU :
![]() |
| Arung Palakka |
Pasukan pengawal benteng Sombaopu membalas juga dengan
tembakan meriam yang diarahkan kekapal perang kompeni Belanda itu. Setelah itu
barulah kapal perang kompeni belanda menyusur kepantai selatan sampai
kebantaeng yang diikuti oleh 4000 orang pasukan gowa dibawah pimpinan karaeng
tulolo ( saudaranya sultan hasanuddin sendiri).
Pada tanggal 25 desember 1666 armada speelman tiba di
pelabuhan bantaeng dan terus malakukan pendaratan dan terjadilah pertempuran
yang dahsyat anatara pasukan arung palakka/speelman disatu pihak, melawan
pasukan Gowa di lain pihak. Dalam pertempuran itu Arung Palakka mendapat
luka-luka, karena jengkelnya, maka terpaksa membakar kota dan seluruh kampung-kampung
di pesisir pantai, selain itu membakar pula sebanyak 100 buah perahu yang
sedang memuat beras di pelabuhan Bantaeng. Pasukan karaeng tulolo yang
ditugaskan untuk menghadapi pasukan arung palakka / speelman dipukul mundur dan
tidak bisa bertahan lama, sehingga terpaksa kembali ke Gowa.
Semoga bermanfaat.....
Tuesday, 4 April 2017
On April 04, 2017 by zainuddin in Sejarah No comments
Sejarah KARE Ri' Bontonompo
Salah satu daerah yang masuk dalam distrik ini adalah Kekarean Bontonompo. Kekarean ini dipimpin oleh pejabat yang bergelar Kare, yang awalnya mengakui sebagai bagian dari kekuasaan Karaeng Loe ri Katingang. Setelah Katingan Kalah oleh Gowa yang saat itu dipimpin oleh Somba Tumapa’risika Kallonna, maka otomatis wilayah ini berpindah ke Kerajaan Gowa, kemudian berpindah ke Karaeng Sanrobone yang telah menjadi sekutu kerajaan Gowa. Kekarean Bontonompo, kemudian dimasukkan dalam kekuasaan Gallarrang Manuju. Selanjutnya wilayah ini kemudian secara sepihak diserahkan sebagai hadiah kepada anak Raja Lemo Appa saat melakukan perburuan sekitar tahun 1669.
Jabatan Kare kemudian dihapuskan, setelah I Yuseng Daeng Mallingkai Kare Bontonompo gugur saat melakukan perlawanan melawan kerajaan Gowa dalam perang Mangngasa pada tahun 1868. Selanjutnya kepemimpinan tertinggi di Bontonompo disebut Anrongguru, sehingga praktis Kare terakhir dijabat oleh Kare I Yuseng Daeng Mallingkai. Usai perang Mangngasa, pihak kerajaan Gowa menunjuk seorang putera raja Gowa yang saat itu di jabat oleh I Kumala Karaeng lembang Parang, Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid Tumenaga ri Kakuasanna. Putera Sombaya yang di tunjuk sebagai Anrong Guru pertama Bontonompo tersebut adalah I Mappatunru Karaengta ri Bura’ne.
Berselang setahun kemudian, sekira tahun 1870, pihak kerajaan Gowa menunjuk dan mengangkat anak Kare I Yuseng, yakni I Poli Daeng Mannyarrang sebagai Anrongguru Bontonompo kedua. Dimasa pemerintahannya, sekitar tahun 1872 bersama dengan I Mappatunru Karaengta ri Bura’ne membangun sebuah masjid di kampung Camba Jawaya/Lompo Masigi (baca; Mesjid), di atas tanah miliknya yang diwakafkan. Untuk mengenang pembangunan mesjid tersebut, maka tanah yang berseberangan dengan lokasi masjid tersebut diberi nama Tanete Katangka, sebagai penjelmaan kampung Katangka tempat berdirinya Masjid pertama di wilayah Gowa atau Lakiung.
Anrong Guru Poli Daeng Mannyarrang, kemudian digantikan oleh anaknya yakni I Mannarai Daeng Mangngemba sebagai Anrong Guru ketiga. Ia kemudian mengemban amanah untuk menentukan batas antara Bone dan Gowa atau lazim di sebut Tirak Butta, untuk menghindari peperangan antara kedua kerajaan. Batas yang ditentukan bagi kedua kerajaan pada penentuan perbatasan tersebut adalah Sungai Tangke. Setelah Anrong Guru Mannarai menancapkan tapal batas antara kerajaan Gowa dan Bone. Ia kemudian membuat perkampungan. Saat itulah muncul ular berkepala dua, yang setelah ditebas hidup kembali. Setelah menebas sebanyak dua kali dan tetap hidup kembali, ia kemudian memanggil pengawal setianya, Bapak nembok untuk membawa kuku dan rambut ke Bontonompo.
Menurut cerita, Anrong Guru ketiga ini dimakamkan di perbukitan gantarang matinggi di daerah matajang Bone. Mengisi kekosongan pemerintahan selama beberapa bulan lamanya, ditunjuklah Anrong Guru I Saso Daeng Nakko yang juga adalah sepupu Anrong Guru Mannarai sebagai pejabat sementara. Setelah itu diangkatlah I Mannyaurang Daeng Sibali (kemenakan Anrong Guru Mannarai) sebagai Anrong Guru keempat, yang memerintah tahun 1905 – 1911. Anrong Guru Mannyaurang kemudian digantikan oleh I Mammuntuli Daeng Rombo sebagai Anrong Guru kelima. Ia adalah anak dari Anrongguru Mannarai daeng Mangemba dan menjabat tahun 1911 hingga 1927.
Dalam suatu pemilihan Anrongguru (Apijo’jo’ Anronguru), untuk pertama kalinya di gelar, terpilihlah I Mappase’leng Daeng Sija’ yang memerintah tahun 1927 hingga 1947 sebagai Anrongguru keenam. Setelah wafat, putra sulungnya I Mannangngarri Daeng Lassa terpilih oleh rakyat untuk menggantikannya sebagai Anrongguru ketujuh.
Dimasa pemerintahan Anrongguru Mannangarri, terjadi perang kemerdekaan melawan pemerintah Belanda yang ingin kembali menjajah bangsa Indonesia. Rupanya salah satu kelompok dengan segala kedok perjuangannya menginginkan posisi Anrongguru untuk diduduki.
Pada tahun 1950, Anrongguru Mannangngarri terbunuh oleh kelompok tersebut, dengan membuat opini bahwa pembunuhan tersebut dilakukan oleh para perampok. Wafatnya Anrongguru Mannangarri, maka diadakanlah penunjukan terhadap diri I Sinring Daeng Lira, yang pada tahun 1951 diadakannya pemilihan dan ternyata terpilih kembali dan menduduki jabatan sebagai Anrongguru Bontonompo kedelapan. Pada saat yang sama yakni di tahun 1952, pihak kerajaan Gowa menarik Karaeng Bontonompo yang saat itu dijabat oleh Andi Machmud. Maka Anrongguru Sinring kemudian ditunjuk sebagai pejabat sementara kepala Distrik atau karaeng Bontonompo.
Pada tahun 1961, diadakan kembali pemilihan Anrongguru Bontonompo, dan terpilihlah I Patarai Daeng Ma’ruppa, putera I Mannyaurang Daeng Sibali sebagai Anrongguru kesembilan. Ia menjabat selama 26 tahun yakni sejak tahun 1961 hingga 1987. Dimasa pemerintahannyalah, jabatan Anrongguru berubah status menjadi Lurah. Setelah mencapai usia pensiun, maka ditunjuklah seorang puteranya yang bernama Drs, Mulyadharma Daeng Ngewa sebagai Lurah Bontonompo. Ia dilantik pada hari Kamis, 10 September 1987 oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gowa, Letkol. Inf A. Kadir Dalle di Kantor Kelurahan Bontonompo.
Dalam struktur pemerintahan Kekarean Bontonompo, Kare Bontonompo yang selanjutnya menjadi Anrongguru Bontonompo membawahi Punggawa Kalase’rena, Jannang Romang Lasa, Taipa Le’leng dan dua orang suro. Kedua Jannang dan Anrongguru dipilih oleh rakyat dan diangkat oleh Kepala Afdeling. Punggawa Kalase’rena memerintah bersama suronya Kampung kalase’rena. Kepada Jannang Romang Lasa diperbantukan suro-suro Romanglasa, Bontosalang dan Tanete. Suro Bontotangnga dan Darumung serta Salekowa memimpin 163 wajib pajak. Jannang Taipale’leng dengan suronya memerintah kampung-kampung Taipale’leng, Kalumpang, Bontokadieng dan Kokoa. Selain itu, Anrongguru Bontonompo dibantu oleh sejumlah suro, yakni : a.Suro untuk Borong Balla dan Bontocara’de b.Suro untuk Rappokaleleng, Giring-giring dan Pamase dan Sela c.Suro untuk Kampung Tamallaeng, Gongga dan Parang d.Suro untuk Kampung Bontonompo dan Bu’nea e.Suro untuk Kampung Katangka dan Tanetea f.Suro Untuk Kampung Cambajawaya, Bontomate’ne dan Parannaja g.Suro untuk Kampung Bontoratta dan Borongbo’dia Sejak tahun 1915, yakni saat I Mangimangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo Sultan Muhammad Tahir Muhimuddin Tumenanga ri Sungguminasa, menjadi Somba Gowa ke 35.
Distrik Bontonompo tidak lagi memiliki kepala pemerintahan. Sehingga pemerintahan dijalankan oleh Kontrolir Takalar dan menyerahkan kepada Bestur Asisten. Jabatan ini dipangku oleh pribumi yang tidak dipilih oleh rakyat, tetapi ia diangkat dan dipecat oleh Gubernur Celebes, dan atau dengan kata lain bukan wakil rakyat. Selanjutnya struktur pemerintahan berubah mengikuti status perubahan Anrongguru menjadi Lurah Bontonompo. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi keluarga besar Kare I Yuseng Daeng Mallingkai, serta masyarakat pada umumnya
Subscribe to:
Posts (Atom)
Search
Pengunjung
My Profil
Popular Posts
-
BLOK OSCILATOR DAN SINKRONISASI PADA TV CRT (CATODE RAY TUBE) OLEH: KELOMPOK 3 MUH. AYYUB ...
-
BIDANG ASPRESIASI SENI BUDAYA DAN OLAH RAGA 1. Pendahuluan Alhamdulillah,segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa m...
-
Raja-raja Gowa Awal pemerintahan Rumah Adat Balla Lompoa Kerajaan Gowa diperintah oleh raja wanita yang disebut Sombaya. Raja pert...
IG
zainuddin1002
Recent Posts
Blog Archive
Powered by Blogger.
Postingan terbaru
IPM DENGAN CARANYA, SIKAPNYA, DAN KEIKHLASANNYA
“ IPM DENGAN CARANYA, SIKAPNYA, DENGAN KEIKHLASANNYA AKAN MEMBANGUN GENERASI PELAJAR BERKEMAJUAN DAN MENJADI PERCONTOHAN KARAKT...
Home Ads
zainuddin
Translate
Popular Posts
-
Untuk program kerja ini Alhamdulillah sudah terlaksana empat kali yang bertempat di cabang Bontonompo tepatnya di Masjid idjtihad pada tan...
-
“ IPM DENGAN CARANYA, SIKAPNYA, DENGAN KEIKHLASANNYA AKAN MEMBANGUN GENERASI PELAJAR BERKEMAJUAN DAN MENJADI PERCONTOHAN KARAKT...
-
kedua mempelai Alimuddin dan Mutmainnah Pada Hari Ahad tepatnya pada tanggal 19 November 2017 tepatnya di daerah bissoloro kecamat...
-
Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makana...
-
Foto Bersama Peserta dengan Tim Fasilitator Pengkaderan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk bisa masuk menjadi anggota s...
-
Sebagai mahasiswa, Anda harus dituntut untuk kreatif supaya bisa mandiri dan tidak hanya mengandalkan kiriman dari orang tua. Para ma...
-
Pada Hari Senin, 11 Desember 2017 PD IPM Gowa bersama beberapa jajarannya melakukan sebuah audience dengan Wakil Bupati kabupaten Gowa, Bap...
-
Arung Palakka Melawan Sultan Hasanuddin Kali ini sy akan mencoba mengungkap kisah perlawanan antara Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddi...
-
BIDANG PENGKAJIAN ILMU PENGETAHUAN 1. Pendahuluan Alhamdulillah,segalah puji bagi Allah SWT yang senangtiasa memberikan kita ...
-
Berikut Karakter sifat dan Arti tanggal lahir seseorang menurut Islam dalam Alquran Tanggal 1 Surat Al Fatihah (Pembukaan) Kar...












